Asal Usul Sejarah Cabai

Siapa yang tidak kenal dengan cabai. Sayuran yang satu ini sudah banyak mengambil hati para pecinta kuliner Indonesia bahkan dunia dengan rasa pedasnya yang khas. Tapi tahukah kalian asal usul sejarah cabai?. Mungkin ada beberapa yang sudah tahu asal usul sejarah cabai, namun lebih banyak lagi yang belum mengetahui asal usul sejarah cabai. Disini akan dibahas mengenai asal usul sejarah cabai secara komperhensif.

Cabai adalah sayuran sekaligus rempah dapur yang hampir selalu hadir pada hidangan yang kita makan sehari-hari. Cabai yang termasuk dalam keluarga terung-terungan ini sangat digemari di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Rasa pedas dari cabai itu sendiri yang menjadi daya tarik sehingga cabai dapat populer di berbagai belahan dunia. Bahkan menjadi ciri khas bumbu pada berbagai kuliner di Asia.

Asal Usul Sejarah Cabai

Cabai sudah dikonsumsi oleh manusia semenjak ribuan tahun yang lalu. Walaupun belum jelas kapan tepatnya tanaman cabai ada di muka bumi, namun para arkeolog percaya bahwa tanaman ini sudah digunakan sejak puluhan ribu tahun lalu. Pendapat tersebut dikuatkan dengan ditemukannya fosil berupa bubuk cabai yang dieksplorasi di daerah Oaxaca—Amerika Selatan.

Beberapa sejarah mencatat bahwa bangsa Aztec adalah bangasa pertama yang mengkonsumsi cabai. Dari beberapa fosil yang berhasil ditemukan, banyak arkeolog yang memperkirakan bahwa sayuran ini sudah dikonsumsi oleh bangsa Indian sejak 7500 tahun sebelum masehi. Kerja keras para arkeolog ini diawali dari penemuan cabai oleh bangsa Eropa, Christoper Columbus yang berlayar ke dunia baru pada tahun 1492.

Ketertarikannya dengan sayuran ini, mengantarkannya pada pekerjaan untuk mengidentifikasi semua jenis cabai yang dijumpainya.

Di zaman Columbus, semua jenis cabai yang berasal dari Amerika tropis disebut dengan axi. Sampai saat ini, penduduk asli di kawasan Amerika Latin hingga Karibia yang berbahasa Spanyol menyebut cabai dengan sebutan axi atau aji, yang berarti pedas. Penamaan ini bertujuan untuk membedakannya dengan lada hitam yang memiliki rasa pedas juga. Dalam bahasa Spanyol, lada hitam disebut pimienta.

Cabai memang identik dengan rasa pedas, tapi ada juga beberapa jenis cabai yang memiliki rasa sedikit manis. Seperti boniatum yaitu nama jenis cabai manis yang terdapat pada Meksiko dan sekitarnya. Jenis cabai ini memiliki bentuk seperti paprika namun lebih kecil, tapi karena kurang populer di kalangan mereka, maka cabai jenis ini tidak dibudidayakan. Mereka lebih menyukai caribe yaitu jenis cabai yang memiliki rasa paling pedas di daratan Meksiko. Kata caribe sendiri berasal dari kata cannibal yang berarti tajam dan keras. Di kemudian hari, ahli botani bangsa Eropa mulai membudidayakan jenis cabai manis. Karena mereka tidak terlalu suka dengan rasa pedas.

Rantai Penyebaran Cabai

Penyebaran cabai ke seluruh dunia melalui jalan perdagangan. Karena perdagangan rempah-rempah pada masa itu sangatlah diminati. Harganya yang mahal menjadi faktor ramainya persaingan dalam perdagangan rempah-rempah. Beraneka ragam rempah-rempah dibawa oleh satu pedagang ke pedagang lainnya dan dari satu negara ke negara lainnya.

Pada saat itu, cabai belum populer karena memang baru ditemukan setelah rempah-rempah lain asal Asia sudah mendunia lebih dahulu. Cabai baru di bawa ke dalam perdagangan oleh bangsa Eropa. Dan bangsa Portugislah yang memiliki peran penting dalam penyebaran cabai ke seluruh dunia. Sedangkan Indonesia memiliki peran penting penyebaran cabai ke bagian Asia Selatan, Timur dan Tenggara setelah Indonesia mendapat cabai dari bangsa Portugis, yang sempat menduduki Indonesia untuk beberapa saat.

Kenapa dinamai cabai?

Hingga ratusan tahun semenjak cabai ditemukan oleh bangsa Eropa, cabai masih disebut dengan axi atau aji. Ada juga beberapa yang meyebutnya cayenne. Barulah pada tahun 1600-an, para saudagar rempah-rempah mulai menamainya secara baku dengan sebutan cabai. Penamaan tersebut sekaligus menandai dimulainya pendeskripsian cabai secara ilmiah.

Seorang ahli botani berkebangsaan Spanyol Francisco Hernandez, berupaya mencari jejak botani tanaman cabai. Dalam tulisannyayang terbit pada 1615, ia menyebut cabai dengan nama chilli, yang diambil dari bahasa Natuatl (Aztec), yaitu chiltli yang artinya kurang lebih sama dengan aji dalam bahasa Spanyol.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s